
Kepala BGN Sudaryono menegaskan bahwa skema MBG mewajibkan penggunaan bahan baku segar dari kawasan sekitar. Langkah ini memastikan bahwa perputaran uang terjadi secara nyata di kalangan petani, peternak, pedagang pasar, hingga lembaga ekonomi desa.
Memberikan kepastian Pasar Bagi Produsen Pangan Daerah
Kendala utama yang sering kali dihadapi petani dan peternak skala kecil di daerah adalah fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian pembeli saat masa panen. Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah hadir sebagai jembatan yang memberikan jaminan pembeli siaga (offtaker) secara konsisten.
Dapur-dapur SPPG diwajibkan membeli bahan baku segar—seperti beras, telur, daging ayam, buah-buahan, dan sayur-mayur—langsung dari warga setempat. Komitmen ini tidak hanya menjamin kualitas dan mutu gizi makanan harian yang diolah, tetapi juga menghadirkan stabilitas pendapatan bagi para produsen lokal.
"Program ini berdampak langsung kepada ekonomi lokal dengan memberdayakan UMKM, petani, dan peternak. Syarat utamanya semua bahan makanan harus benar, segar, dan memenuhi standar keamanan pangan," tegas Kepala BGN Sudaryono.
UMKM dan Koperasi Kuasai 82 Persen Rantai Pasok MBG
Dominasi para pelaku usaha lokal dalam menyokong kebutuhan program MBG terlihat jelas dari data resmi BGN per 9 Oktober 2026. Dari total 63.608 pemasok bahan pangan aktif yang tersebar di 37 provinsi, porsi terbesar dikuasai oleh pelaku ekonomi daerah:
UMKM Daerah: 52.689 pemasok (82,83 persen)
Koperasi: 9.388 pemasok
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes): 1.105 pemasok
Koperasi Desa Merah Putih: 426 pemasok
Keterlibatan masif ini membuktikan bahwa program MBG berhasil merangkul kekuatan ekonomi lokal, menjadikan UMKM dan kelembagaan desa sebagai tulang punggung utama distribusi pangan nasional.
Penyerapan Lebih dari 1 Juta Tenaga Kerja di Tingkat Tapak
Dampak positif program MBG semakin lengkap dengan terbukanya lapangan kerja berskala masif di berbagai daerah. Operasionalisasi 26.385 unit SPPG yang melayani puluhan juta penerima manfaat membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang besar dalam proses persiapan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan.
Saat ini, program MBG tercatat melibatkan lebih dari 1,02 juta tenaga kerja aktif, yang terdiri atas 86.120 pegawai SPPG dan 941.878 relawan. Penyerapan tenaga kerja ini menjadi sumber pendapatan baru yang secara nyata memperkuat daya beli dan kesejahteraan keluarga di pedesaan.
Langkah Nyata Menuju Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Nasional
Integrasi antara pemenuhan gizi generasi muda dan penguatan ekonomi kerakyatan menjadikan Program Makan Bergizi Gratis sebagai strategi pembangunan yang utuh dan berkelanjutan. BGN terus berkomitmen untuk memperketat pengawasan standar keamanan pangan sembari memastikan keberlanjutan perputaran ekonomi daerah.
Melalui kolaborasi erat antara pemerintah, UMKM, dan produsen pangan lokal, Indonesia sedang membangun fondasi yang kokoh menuju kemandirian pangan sekaligus pemerataan kesejahteraan nasional yang dimulai dari desa.










