Merah Pekat
5 min read1,216

Rupiah, Renminbi, dan Pelajaran dari Shanghai, Dari Stabilitas Rupiah ke Ketahanan Sistemik

Kesepakatan yang dicapai Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai merupakan salah satu langkah strategis yang berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Melalui perluasan transaksi mata uang lokal, pembaruan currency swap, dan penguatan sistem pembayaran lintas negara, Indonesia sedang membangun instrumen baru untuk mengurangi risiko eksternal sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan. Di tengah perubahan tatanan ekonomi global, kebijakan seperti ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar bereaksi terhadap perkembangan dunia, tetapi mulai aktif membentuk ruang manuver ekonominya sendiri.

O

OP Admin

Published in Merah Pekat

Loading...
Rupiah, Renminbi, dan Pelajaran dari Shanghai, Dari Stabilitas Rupiah ke Ketahanan Sistemik

Ketika Dunia Tidak Lagi Sama

Dua dekade lalu, sebagian besar negara berkembang menerima satu kenyataan yang dianggap tidak terbantahkan: perdagangan internasional harus bergantung pada dolar Amerika Serikat.

Namun dunia 2026 berbeda dengan dunia 2006.

Pusat pertumbuhan ekonomi global kini semakin bergeser ke Asia. Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar bagi lebih dari 120 negara. Negara-negara ASEAN semakin terintegrasi secara ekonomi. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik, perang dagang, sanksi ekonomi, dan fragmentasi rantai pasok global membuat banyak negara mulai mengevaluasi ulang ketergantungan mereka terhadap satu sistem pembayaran internasional.

Dalam konteks inilah pertemuan antara Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) di Shanghai menjadi relevan.

Apa yang terlihat sebagai kesepakatan teknis antarbank sentral sesungguhnya mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam cara negara-negara mengelola risiko ekonomi di abad ke-21.


Dari Stabilitas Rupiah ke Ketahanan Sistemik

Selama ini pembahasan mengenai rupiah sering terjebak dalam perspektif jangka pendek.

Ketika rupiah menguat, perhatian tertuju pada sentimen pasar.

Ketika rupiah melemah, fokus berpindah pada pergerakan dolar AS atau keputusan Federal Reserve.

Padahal tantangan utama yang dihadapi Indonesia bukan sekadar menjaga kurs harian, melainkan membangun ketahanan sistemik agar ekonomi nasional tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal.

Karena itu, pembaruan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan PBOC harus dipahami sebagai bagian dari strategi yang lebih besar.

Swap arrangement memungkinkan kedua negara memiliki akses likuiditas yang lebih baik dalam situasi tertentu. Sementara perluasan Local Currency Transaction (LCT) membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk menggunakan rupiah dan renminbi secara langsung dalam perdagangan dan investasi.

Instrumen-instrumen tersebut tidak akan membuat rupiah kebal terhadap gejolak global.

Namun mereka menciptakan lapisan perlindungan tambahan yang memperkuat daya tahan ekonomi nasional.


Tiongkok Bukan Mitra Dagang Biasa

Argumen utama yang mendukung kerja sama ini sesungguhnya sangat sederhana: struktur ekonomi Indonesia sudah berubah.

Menurut data perdagangan internasional, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari satu dekade. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai sekitar 154 miliar dolar AS.

Angka tersebut setara dengan lebih dari sepersepuluh total aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia.

Namun sebagian besar transaksi tersebut masih bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.

Artinya, meskipun barang bergerak antara Jakarta dan Shanghai, biaya transaksi dan risiko kurs sering kali tetap dipengaruhi oleh dinamika dolar AS.

Dalam ekonomi modern, efisiensi semacam ini tidak bisa dianggap sepele.

Semakin besar volume perdagangan yang dapat dilakukan menggunakan mata uang lokal, semakin rendah biaya transaksi yang harus ditanggung pelaku usaha.

Semakin kecil biaya transaksi, semakin besar daya saing ekonomi nasional.


Tren yang Sedang Terjadi di Seluruh Dunia

Indonesia juga tidak berjalan sendirian.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional menjadi tren yang semakin luas.

ASEAN mendorong Local Currency Settlement Framework untuk memperkuat transaksi intra-kawasan.

India memperluas penggunaan rupee dalam perdagangan bilateral.

Brasil dan Tiongkok mengembangkan mekanisme transaksi langsung menggunakan mata uang masing-masing.

Arab Saudi mulai membuka ruang bagi diversifikasi mata uang dalam transaksi energi internasional.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: negara-negara tidak sedang meninggalkan sistem keuangan global, tetapi mereka sedang memperluas pilihan agar tidak terlalu bergantung pada satu instrumen.

Indonesia melalui BI sedang bergerak dalam arah yang sama.


Pemerintah Sedang Membangun Arsitektur Baru Ekonomi Nasional

Yang menarik, kerja sama di Shanghai terjadi pada saat pemerintah juga menjalankan berbagai agenda transformasi ekonomi di dalam negeri.

Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi nasional melalui penguatan sektor produksi, hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan peningkatan kapasitas industri strategis.

Di sektor energi, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan impor.

Di sektor pangan, berbagai program swasembada dan modernisasi pertanian terus didorong.

Di sektor industri, hilirisasi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Dalam konteks tersebut, kebijakan BI memperluas penggunaan mata uang lokal menjadi pelengkap yang logis.

Karena kemandirian ekonomi tidak hanya dibangun melalui produksi, tetapi juga melalui kemampuan mengelola transaksi dan risiko keuangan secara lebih efektif.


QRIS dan Integrasi Ekonomi yang Semakin Nyata

Selain currency swap dan transaksi mata uang lokal, salah satu aspek penting dari kerja sama terbaru ini adalah perluasan integrasi sistem pembayaran.

QRIS lintas batas yang kini terhubung dengan ratusan penyedia layanan di Tiongkok menunjukkan bahwa transformasi tersebut mulai bergerak dari level makro menuju ekonomi sehari-hari.

Bagi pelaku UMKM, wisatawan, eksportir kecil, maupun sektor jasa, sistem pembayaran yang semakin terintegrasi akan mengurangi hambatan transaksi lintas negara.

Dalam jangka panjang, langkah ini dapat memperkuat konektivitas ekonomi Indonesia dengan pasar Asia yang terus berkembang.


Ketahanan Ekonomi Dibangun Melalui Langkah-Langkah Kecil

Kesalahan terbesar dalam membaca kebijakan ekonomi sering kali adalah mengharapkan hasil instan.

Padahal kebijakan strategis jarang menghasilkan perubahan besar dalam semalam.

Ketahanan ekonomi dibangun melalui akumulasi keputusan yang konsisten.

Pembaruan currency swap.

Perluasan transaksi mata uang lokal.

Penguatan sistem kliring renminbi.

Integrasi pembayaran digital.

Koordinasi yang semakin erat antara pemerintah dan bank sentral.

Masing-masing mungkin terlihat teknis. Namun jika disatukan, mereka membentuk fondasi yang lebih kokoh bagi ekonomi nasional.


Kesimpulan

Kesepakatan antara Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengambil langkah yang lebih strategis dalam mengelola risiko ekonomi global. Bukan dengan meninggalkan sistem yang ada, tetapi dengan memperluas pilihan dan memperkuat ketahanan.

Di tengah dunia yang semakin multipolar, kemampuan sebuah negara untuk memiliki lebih banyak jalur perdagangan, lebih banyak instrumen pembayaran, dan lebih banyak sumber likuiditas menjadi aset strategis yang sangat penting.

Melalui sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia sedang membangun arsitektur ekonomi yang lebih adaptif terhadap perubahan global. Langkah-langkah yang diambil mungkin tidak selalu menghasilkan headline besar setiap hari, tetapi justru dari kebijakan-kebijakan semacam inilah fondasi ketahanan ekonomi nasional dibangun untuk jangka panjang.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles